Nyacak, Rek!

Ikon

Just another WordPress.com weblog

Hutang Puasa, Sholat Ghoib & Menegur Ahli Bid’ah

Pertanyaan

Ada beberapa pertanyaan yang ana kurang paham:

1. kalau seseorang meninggal dunia dan masih punya hutang puasa wajib, apakah yang hidup harus membayarkannya (dengan fidyah) mengingat puasa kan urusan manusia terhadap Alloh bukan terhadap manusia?

2. tentang sholat gaib. misal ini ada kasus keluarga yang berangkat ibadah haji dan meninggal disana, apakah keluarga yang di tanah air boleh melaksanakan sholat gaib untuknya sebagai pengganti sholat jenazah? hukumnya boleh, wajib atau sunnah? dan dikerjakannya sendiri atau berjamaah?

3. apakah kita harus mengingatkan jika kita mengetahui ada seorang imam (biasa menjadi imam di suatu masjid) sering melakukan bid’ah? kalau tidak mengingatkan apakah berdosa n kewajiban mengingatkan apakah masih terus melekat?

trimakasih sebelumnya n jazakallah khairan katsir

Jawaban:

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillah, Wassholatu wassalamu ‘Ala Rasulillah.

1. Orang yang mati dalam keadaan punya utang puasa.

Orang yang punya hutang puasa ( seperti karena haid, nifas, atau safar) sebelum mengqadha’ puasa dia meninggal dunia, maka kerabatnya berpuasa atasnya sebanyak hari yang ditinggalkan. Dalilnya: Hadist Nabi saw:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهاَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ (رواه البخاري ومسلم)

Dari Aisyah ra: Bahwa Rasulullah saw bersabda: barang siapa mati dalam keadaan punya tanggungan puasa, maka kerabatnya yang berpuasa atasnya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tetapi jika yang meninggal itu kakek-kakek, ibu hamil atau menyusui dimana beliau-beliau ketika tidak puasa tidak wajib qadha’ puasa (tapi bayar fidyah, Al-Baqarah: 184 ), maka kerabatnya tidak perlu berpuasa untuknya. Tetapi kerabat membayar fidyahnya.

2. Sholat Ghoib.

Keluarga boleh sholat ghoib. Hukum sholat ghaib Sunnah, dikerjakan dengan berjama’ah. Dalilnya: Hadist Nabi saw:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَي لِلنَّاسِ النَّجَاشِيَّ فِي اْليَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ، وَخَرَجَ ِبهِمْ إِلَي اْلمُصَلَّي، فَصَفَّ أَصْحَابُهُ وَكَبَّرَ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ (رواه الجماعة)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra Bahwa Nabi saw mengumumkan kematian Raja Najasyi kepada para sahabat pada waktu ia meninggal. Nabi saw kemudian ke tempat sholat bersama para sahabat. Para sahabat membuat shaff dan Nabi saw bertakbir empat kali. (HR. Jama’ah).

3. Mengingatkan ahli bid’ah.

Kita berkewajiban mengingatkan dengan semampu kita. Bisa face to face, via SMS, email, perantara orang ke tiga atau via surat (kaleng) juga tidak apa” jika kita memang kurang PeDe. Jika kita sudah mengingatkan (meski 1 kali), maka kita sudah bebas dari beban dosa dari Allah swt. Selamat mencoba!

Wallahu a’lamu bish shawab.

Filed under: Konsultasi, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kapan Yo?

Oktober 2008
S S R K J S M
    Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d blogger menyukai ini: